“Jaga Aibmu, walaupun nyawa sebagai bayarannya. Karena itu adalah pakaian terhormat bagi dirimu.” – Ahaf
Belakangan ini jagat media sosial heboh oleh sebuah tren baru yang entah dari mana datangnya dan siapa yang memulainya. Namanya Tren S-Line. Bukan, ini bukan tren bentuk tubuh seperti zaman dahulu, dimana orang berlomba-lomba memiliki tubuh ramping bak huruf S. Ini tren yang jauh lebih memprihatinkan, mungkin kita juga dibuat sedikit agak muak. S-Line sekarang adalah sebuah tren garis merah yang digambar di kepala, menandakan jumlah hubungan seksual yang pernah dilakukan oleh seseorang.
Iya, kamu nggak salah baca kok.
Baca Juga :
Dunia maya kini bukan hanya dijadikan sekadar tempat curhat atau pamer pencapaian semata, tapi telah jadi panggung buat pamer aib yang dibungkus dengan istilah “kejujuran”, “open minded”, dan yang paling klise: “itu tubuhku, hakku”.
Normalisasi Aib: Gaya Hidup atau Jurang Penjerumus?
Dahulu, hal-hal seperti ini adalah sesuatu yang harus dijaga dengan rapat. Bahkan dalam lingkungan yang liberal sekalipun, masih ada loh–batasan hal yang pantas dibicarakan di ruang publik dan hal yang menjadi ranah privasi. Ironi masa kini, privasi seolah nggak ada artinya lagi. Orang dengan bangganya menceritakan aibnya sendiri, seolah itu adalah sebuah prestasi atau hanya sekadar tanda kebebasan dan kejujuran.
Padahal, Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:
“Seluruh umatku dimaafkan, kecuali orang-orang yang secara terang-terangan (dalam berbuat dosa).” – Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
Jadi, ketika kita secara sadar dan dengan bangganya membongkar hal-hal yang harus ditutup rapat, sama saja kita sedang berjalan ke arah jurang maut nan berbahaya. Karena itu bukan lagi hanya sekadar dosa pribadi, tapi sudah menginspirasi orang lain untuk ikut juga melakukannya.
Budaya Flexing Bergeser: Dulu Kekayaan, Kini Kehancuran Moral
Kalau dahulu, orang banyak flexing soal kekayaan yang dimilikinya, sekarang orang-orang malah flexing ‘pengalaman ranjang’. Makin banyak garis merah di kepala, maka dianggap “berpengalaman”, “pemberani”, bahkan “bebas”. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah sebuah kebingungan identitas, dimana seseorang mencari sebuah pengakuan dari dunia maya karena kehilangan makna dalam dirinya sendiri.
Ada pepatah lama berkata:
“Orang bijak akan menutupi aibnya, berbeda dengan orang bodoh–akan dengan bangga memamerkannya.”
Dan dari tren S-Line ini bukan hanya memalukan secara moral, tapi juga sangat menyedihkan jika kita lihat dari kondisi psikologis. Bayangkan saja, apa yang ada di benak seseorang hingga dengan rela membuka aibnya sedemikian rupa hanya untuk mendapat validasi digital berupa kontennya viral dengan ribuan like dan komentar dari orang asing.
Self-Destruction yang dikemas dengan Hastag
Tren ini sebenarnya bukan lagi tentang sebuah kebebasan, tapi jadi sebuah tanda bahwa kita sedang menggali kubur bagi jasad kita sendiri–perlahan tapi pasti.
Garis merah di kepala itu seperti simbol luka yang dibanggakan. Seolah mereka sedang berkata, “Aku sudah rusak, tapi aku bahagia dengan kerusakan ini.” Padahal jauh di dalam hatinya, mungkin ada rasa kosong, malu, atau bahkan trauma yang tak pernah bisa terobati dengan komentar-komentar netizen.
Kebebasan yang Salah Arah
Mari kita bicara soal kebebasan. Kata ini sering dipakai untuk pembenaran segala hal. Mau buka-bukaan aib? Bebas. Mau hidup tak sesuai aturan? Bebas. Mau tidur sama siapapun? Bebas.Tapi kalau kita memandang lebih dalam lagi, kebebasan bukan berarti bebas untuk melakukan apapun yang kita mau tanpa konsekuensi.
Kebebasan yang benar adalah ketika kita bebas memilih sebuah hal yang positif dan bermanfaat bagi diri kita sendiri. Bebas untuk menghormati tubuh dan harga diri kita sendiri. Dan untuk membentengi diri kita dari budaya rusak yang berpotensi meracuni kita.
“Banyak orang bersembunyi di balik kata bebas. Bebas bukan hanya persoalan kita bisa melakukan apapun, tapi bagaimana memilih untuk tidak melakukannya (hal negatif) meskipun kita mampu.” – Taufiqurahman
Media Sosial: Cermin atau Candu?
Media sosial hari ini, saya melihatnya malah lebih mirip seperti sebuah cermin yang retak–memantulkan gambaran palsu. Hari ini kita lebih sering melihat orang berlomba-lomba jadi viral tanpa mempedulikan apa yang mereka jual: kehormatan, moral, bahkan masa depannya sendiri.
Anak-anak muda yang mungkin masih lugu, juga ikut-ikutan menggambar S-Line di kepalanya tanpa benar-benar paham maknanya. Yang penting kan bisa eksis dulu. Yang penting bisa dilihat keren. Yang penting bisa trending.
Tapi faktanya, setelah layar ponsel dimatikan, mereka kembali menyendiri dengan perasaan hampa yang makin membesar.
Menggali Kubur Sendiri: Judul yang Tepat
Itulah mengapa judul tulisan saya ini adalah “Menggali Kubur untuk Jasad Sendiri”. Karena saat seseorang secara sadar membongkar aibnya sendiri, sebenarnya ia sedang membunuh kehormatannya, identitasnya, bahkan kembali lagi bisa jadi juga masa depannya sendiri.
Dan yang lebih mengerikan, dalam pandangan saya adalah, ketika budaya itu telah menginspirasi–menular bak virus ke generasi berikutnya. Anak-anak yang masih duduk di sekolah dasar dan menengah yang aktif bermain media sosial mulai ikut-ikutan, tanpa sadar bahwa mereka sedang merusak dirinya semenjak usia dini.
Mari Kita Kembali Pulang ke Akal Sehat
Coba kita bicara pada diri kita sendiri. Kalau kita masih punya rasa malu, punya nurani, sudah saatnya untuk kita berhenti ikut-ikutan tren yang menghancurkan diri kita sendiri. Kita harus sadari bahwa tidak semua yang viral itu baik. Tidak semua yang banyak penontonnya itu layak untuk kita tiru.
Menjaga marwah dan harga diri bukanlah sesuatu yang kuno. Itu adalah sebuah bentuk perlawanan terhadap budaya instan, dangkal, dan buruk. Kita perlu membangun kembali kesadaran pada diri kita sendiri–mengembalikan fitrah kita sebagai manusia yang mempunyai rasa malu.
Karena dibalik itu semua, kita bisa melihat satu kenyataan pahit: ketika aib menjadi tontonan, maka kehancuran moral tinggal menunggu waktu. Dan ketika seseorang menggambar garis merah di kepalanya, sebenarnya ia sedang “Menggali Kubur untuk Jasad Sendiri”, perlahan tapi pasti.
Penulis: Ahmad Hasan Fatih, Pemimpin Redaksi BetangVoice.net, Alumni Tempo Institute.











