WALHI Ingatkan Dampak Godzilla El Nino pada Krisis Air dan Pangan

Ahmad Hasan Fatih

April 16, 2026

2
Min Read
Peta Prediksi Anomali Hujan 2026. (Sumber: WALHI)

Fenomena Godzilla El Nino yang terjadi saat ini memicu kekeringan berkepanjangan di sejumlah wilayah Indonesia. Hingga Maret 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat sekitar 7 persen Zona Musim di Indonesia telah memasuki fase kemarau.

Sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada April hingga Juni 2026. Berdasarkan analisis WALHI, wilayah yang paling rentan terhadap kekeringan berada di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan kawasan Kalimantan.

Pengkampanye Pangan dan Ekosistem Esensial WALHI Nasional, Musdalifah, mengatakan El Nino berdampak langsung terhadap krisis air bersih, gagal panen, hingga ancaman krisis pangan.

“Ketika terjadi El Nino, kondisi kekeringan semakin ekstrem yang berdampak pada krisis air bersih, gagal panen, dan krisis pangan,” ujarnya, dilansir dari Siaran Pers WALHI, Jumat (10/4/2026).

Ia menilai kondisi tersebut diperparah oleh alih fungsi lahan pertanian produktif menjadi perkebunan monokultur dan proyek pembangunan besar.

Selain itu, Indonesia masih memiliki ketergantungan terhadap impor pangan untuk memenuhi kebutuhan nasional.

Data Badan Pusat Statistik mencatat pada Januari hingga Maret 2025 Indonesia mengimpor 13.629 ton komoditas pangan.

WALHI menilai pemenuhan hak atas pangan tidak hanya soal ketersediaan, tetapi juga keterjangkauan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Musdalifah menegaskan pemerintah harus memastikan masyarakat tetap memiliki akses terhadap pangan layak di tengah ancaman perubahan iklim dan cuaca ekstrem.

Penguatan ketahanan pangan nasional harus dimulai dari perlindungan terhadap lahan pertanian produktif dan penguatan produksi pangan lokal di setiap daerah. Langkah tersebut penting agar masyarakat tidak semakin rentan saat menghadapi perubahan iklim yang semakin tidak menentu. (Ahaf)

TERKAIT