Di tengah ketatnya pasar kerja global, lulusan universitas ternama pun tidak selalu mudah mendapatkan pekerjaan. Kondisi itu dialami Ellen Yang, lulusan Stanford University, yang justru kesulitan memperoleh pekerjaan setelah wisuda.
Ellen mulai melamar pekerjaan sejak awal tahun terakhir kuliahnya. Saat itu ia yakin bisa mendapatkan pekerjaan penuh waktu sebelum lulus seperti banyak rekan kampusnya.
Di lingkungan kampus, banyak mahasiswa sudah lebih dulu mendapat tawaran kerja dari perusahaan keuangan dan konsultasi. Namun situasi berbeda justru dialami Ellen.
Pengalaman Kerja Tak Menjamin Lolos Seleksi
Meski memiliki pengalaman di bidang pemasaran dan jaringan di kawasan Silicon Valley, lamaran yang ia kirim tidak membuahkan hasil. Selama sembilan bulan, sebagian besar lamaran yang dikirim tidak mendapat balasan.
“Setelah beberapa bulan, saya bahkan menghapus kolom wawancara lanjutan di spreadsheet lamaran saya karena tidak pernah sampai ke tahap itu,” ungkap Ellen seperti dikutip dari Business Insider.
Hingga lulus pada 2025, Ellen belum menerima satu pun tawaran pekerjaan tetap. Respons yang datang justru hanya berupa tawaran magang dengan posisi yang tidak sesuai pengalamannya.
Padahal Ellen sudah bekerja di bidang pemasaran sejak usia 15 tahun. Saat kuliah, ia juga menangani berbagai proyek startup sambil menjalani perkuliahan penuh.
Pasar Kerja Berubah Lebih Kompetitif
Total, ia memiliki pengalaman kerja hampir tujuh tahun saat lulus. Namun pengalaman tersebut ternyata belum cukup untuk menembus pasar kerja yang semakin kompetitif.
Ellen kemudian mulai menerima pekerjaan lepas yang tersedia. Ia membantu kampanye buku, mengedit tulisan, dan mengelola buletin untuk beberapa klien.
Meski penghasilannya lebih kecil, pekerjaan itu memberinya pandangan baru. Ia melihat peluang untuk membangun sesuatu yang bisa dikendalikan sendiri.
Memilih Menciptakan Jalan Sendiri
Tiga minggu sebelum kelulusan, Ellen memutuskan mendirikan agensi humas dan pemasaran bernama Punctuation PR. Keputusan itu diambil setelah berulang kali gagal mendapatkan pekerjaan formal.
“Daripada menunggu pekerjaan yang belum tentu datang, saya memilih menciptakan pekerjaan saya sendiri,” kata Ellen.
Sehari setelah wisuda, ia pindah ke Los Angeles dan langsung menjalankan bisnisnya secara penuh. Dari apartemen kecilnya, ia mulai mencari klien satu per satu.
Dari Tekanan Menjadi Peluang Baru
Perlahan, proyek kecil berubah menjadi sumber pendapatan utama. Klien baru datang dari rekomendasi dan jaringan profesional yang ia bangun sebelumnya.
Dalam enam bulan, pendapatannya disebut melampaui gaji entry-level yang sebelumnya ia incar. Bisnis yang awalnya hanya solusi sementara kini berkembang menjadi usaha dengan nilai ratusan ribu dolar.
Pengalaman itu mengubah cara pandangnya tentang dunia kerja. Bagi Ellen, di tengah pasar kerja yang tidak pasti, membangun jalan sendiri terkadang menjadi pilihan paling realistis.
Ellen menunjukkan bahwa gelar dari kampus bergengsi tidak lagi menjadi jaminan untuk mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Perubahan pasar kerja global membuat persaingan semakin ketat, bahkan bagi lulusan yang memiliki pengalaman dan jaringan profesional yang kuat.
Di tengah situasi tersebut, kemampuan beradaptasi menjadi hal yang semakin penting. Kisah Ellen menjadi gambaran bahwa ketika peluang kerja semakin sempit, keberanian untuk menciptakan peluang sendiri bisa menjadi jalan baru untuk tetap bertahan dan berkembang.




