Oleh: Zikraiyah, S.Pd*
Di balik gemerlap pencapaian sekolah, tersembunyi realitas sunyi murid yang berjuang melawan kecemasan akademik yang kerap tak terlihat. Rasa takut gagal, kekhawatiran berlebihan, rendahnya kepercayaan diri, kesulitan berkonsentrasi, serta perasaan tidak mampu memenuhi tuntutan sekolah merupakan tantangan nyata yang dihadapi banyak murid saat ini (Pitriyani dkk., 2026). Permasalahan ini muncul karena adanya faktor internal seperti kesulitan dalam mengelola diri dan faktor eksternal seperti pengaruh teman sebaya, keluarga, dan perbandingan prestasi. Bagi murid SMK dan SMA, masa remaja yang penuh dinamika sering menimbulkan kebimbangan dalam menentukan jurusan atau masa depan. Sebagai guru BK, saya meyakini bahwa keraguan dan keresahan ini bukan disebabkan oleh ketidakmampuan mereka, melainkan karena mereka belum mendapatkan secara optimal ruang untuk benar-benar didengar dan dipahami.
Pendekatan humanistik, khususnya pendekatan berpusat pada individu yang dipopulerkan oleh Carl Rogers, menekankan pentingnya memperlakukan manusia secara manusiawi dalam setiap interaksi, termasuk dalam praktik konseling di sekolah. Carl Rogers, seorang psikolog humanis terkemuka, menyatakan bahwa setiap individu memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang apabila berada dalam lingkungan yang sepenuhnya menerima mereka. Salah satu prinsip utama dari pendekatan ini adalah unconditional positive regard atau penerimaan tanpa syarat, yaitu sikap menerima murid apa adanya tanpa menghakimi sehingga mereka merasa aman untuk terbuka dan berkembang. Pendekatan ini sangat relevan untuk diterapkan oleh guru Bimbingan dan Konseling (BK) karena dapat menciptakan suasana konseling yang hangat dan empatik serta menumbuhkan kepercayaan diri murid. Dalam hal ini, guru Bk berperan sebagai pendamping yang menghargai proses tumbuh kembang setiap murid.
Pendekatan humanistik ini selaras dengan semangat Islam berkemajuan yang menghargai setiap individu. Dalam pandangan Muhammadiyah, memperkuat teori Al-Islam merupakan dasar utama dalam mendampingi murid. Prinsip ini terlihat dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 125:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”
Ayat ini sangat relevan karena menekankan pentingnya hikmah (kebijaksanaan) dan pendekatan yang lembut dalam mendidik dan membimbing. Dalam praktik konseling, hikmah berarti memahami kebutuhan dan karakter murid serta memilih cara komunikasi yang efektif dan penuh empati. Empati adalah inti dari dakwah pendidikan karena dengan memahami perasaan dan pengalaman murid, guru dapat membangun hubungan yang kuat dan saling percaya. Muhammadiyah, sebagai organisasi yang terus memperjuangkan pendidikan yang memanusiakan manusia, menempatkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai dasar utama. Pendidikan menurut Muhammadiyah bukan hanya soal transfer ilmu, tetapi juga membentuk kepribadian Islami serta membangun generasi yang berakhlak mulia, mandiri, dan mampu menghargai orang lain.
Murid tidak hanya merupakan objek pembelajaran, melainkan individu yang patut dihargai. Ketika mereka diterima tanpa syarat dan didengarkan tanpa penilaian, mereka cenderung lebih berani bermimpi, lebih tenang menghadapi tekanan, serta lebih percaya diri dalam menentukan pilihan hidup.
Kesiapan menghadapi masa depan tidak terbentuk melalui tuntutan, melainkan melalui dukungan guru dan tersedianya ruang aman untuk mencoba, mengalami kegagalan, serta bangkit kembali tanpa merasa rendah diri.
Kita perlu mendampingi murid dengan ketulusan, kesabaran, dan empati. Kepercayaan terhadap potensi yang mereka miliki serta pendampingan dalam setiap tahap pertumbuhan sangat penting, termasuk menjadi pendengar yang setia. Dengan menyediakan ruang aman dan dukungan tanpa syarat, kita membantu mereka membangun harapan, menemukan kekuatan diri, dan berkembang menjadi individu yang bahagia, mandiri, serta tangguh dalam menghadapi tantangan kehidupan.
Setiap murid berhak untuk merasa dihargai dan diterima. Dengan begitu, mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan mampu memberikan kontribusi positif di mana saja.
Sebagai guru Bimbingan dan Konseling, kita berperan penting dalam membentuk karakter dan masa depan generasi muda. Tanggung jawab ini menuntut kemampuan tidak hanya dalam memberikan bimbingan teknis, tetapi juga dalam menginspirasi dan memberikan dukungan emosional pada setiap tahap perkembangan murid.
Melalui pendekatan humanistik yang menekankan empati, penerimaan tanpa syarat, dan penghargaan terhadap keunikan setiap individu, kita dapat menciptakan lingkungan belajar yang aman dan memberdayakan.
Setiap interaksi, kata, dan dukungan yang kita berikan akan memberikan pengaruh jangka panjang terhadap pembentukan kepribadian dan kemandirian murid. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk selalu hadir dengan ketulusan, kebijaksanaan, dan kesabaran sebagai sahabat dalam proses tumbuh kembang murid. Dengan demikian, kita berkontribusi secara nyata dalam membangun generasi yang tangguh, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan kehidupan di masa depan Guru BK: Bukan sekadar solusi, melainkan visi.”
*Guru Bimbingan dan Konseling. Mahasiswa Magister BK UAD Yogyakarta.











